Kumpulan Puisi

Perempuanku

siapakah kau gambarkan dirimu?
dan siapa kah aku dalam ceritamu?
terlalu banyak suara dalam diri mereka
terlalu banyak cerita yang menyanggah..
tak seorangpun dari mereka sungguh mengenalmu
gambaran yang tak sesungguhnya dapat mereka terima
yang enggan pula kau tunjukan
dan lalu kau bersembunyi..
memainkan peran wanita dan dambaan hatinya
sembari mendayuh dan melabuh
ku harap kau tak lupa diri yang sesungguhnya..
perempuanku janganlah kau tunggu
kusaksikan iblis mencium dahiku pada jalanmu..
kau lihat diriku bersembunyi dan berlalu
bermain dan bermain dan kau perhatikan peran pria
yang tertawa
sungguh pun bukan diriku..
memperhatikan dan tak berdaya adalah dirimu
dan sekarang diriku..
takkan kumainkan peran dalam ceritamu
tak berdaya
tak pernah ada dalam sebuah imajinasi
mati seperti cerita yang pernah ada..
aku hidup dalam kenyataanmu
sebuah peran yang enggan kubuat-buat.
mari pulang sayangku..
tak beralaskan sesuatu pada lukamu
kecuali diriku
jangan lagi kembali
membawa peran untuk diriku
aku tak pernah ada dalam ceritamu
aku
tempat persembunyianmu

by Hanjaya Boentoro

Besok

padaku ada sebuah rindu,
dan padanya semua kenihilisan.
memangku yang seorang
atau mencumbu yang seorang lagi
hanya bualan kepala
dan kepalan semata.
seakan dirimu terbata-bata
dalam dunia yang ku anggap percuma..
dan kau anggap sia-sia..
seolah matamu telah berhenti
memandangku,
mengkritik dan mencaci di dalam hati.
seolah itu aku..
pada hakekatnya telah menjadi satu,
kata mereka;namanya..
tanpa sedikitpun hak untuk berkata-kata
bahkan untuk menjadi ada.
pada hakekatnya telah menjadi satu,
namun tak kulihat bayang-bayang lain
pada kaca,
atau realita

by Hanjaya Boentoro

Denggung ruang biru tak berwarna

seharusnya kita tak pernah kembali
lagi
disini terpampang politik
dikepala
mereka
menaruh terlalu banyak suara
agar kita lupa
bahwa hidup sudah terlalu hina
bahkan bagi kita
mengucapkan sepatah kata
yang hilang melayang
dan kembali
pada kekosongannya.
lalu
untuk apa
pada suatu hari kau bercerita
sedang besok
telah kau anggap berbeda
bersama musim
dalam titik-titik hujan
dan aroma yang kelamaan
tak lagi dicerna.
semuanya telah menjadi
imajinasi
yang tak sempurna
dan menyata
pada sepasang mata dan telinga
sebuah mulut
yang menghalusinasi
pada nafas
belaka
dan bukan lagi diri yang
sesungguhnya
adalah dirimu juga.
aku enggan mati disini
atau hidup disana
melacur
pada
kedipan mata..
biarkan aku sendiri saja
karena sesungguhnya
aku pun
tak pernah ada

by Hanjaya Boentoro

Buku-buku yang hendak terbawa

masih terlihat sama
sekarang aku telah tertawa dengan langit
menjabat tangan yang membuatmu tertawa
ramah tersenyum tanpa sebelumnya
duduk seranjang memastikan kau disisinya.

masih terlihat sama

sekarang aku telah berdusta
membuktikan kata berbicara sesungguhnya
diantara kita hanya tercipta nada
meski cinta bersuara bersama.

masih terkihat sama

sekarang telah kudengar ibu bercerita
sepotong dirimu yang selalu kupuja
sepotong lainnya yang membuatku bertanya
memeluk erat mimpi yang berputus asa.

masih terlihat sama

diantara mereka aku berkata-kata
namun udara berbincang-bincang diantara kita
meski cerita tak memahami peristiwa
bagiku mengabdikannya

masih terlihat sama.

by Hanjaya Boentoro

Benang kusut orang tua

kepada siapa aku harus berdoa kini?
badanku menimbrung terlalu banyak cabang kepala
teriak semangatku sudah dimakan birahi
dan aku lupa siapa diriku ini..
sampai mana kita berhenti kemarin?
sekarang telah bercabang yang berkuasa
kakiku dibawa kesini dan perbuatan tanganku
kerja paksa belaka
aku tak percaya lagi pada diriku, eyang
pilihan hanya membuka kutukan
sedang anggota keluargaku telah malu mengikuti jejak kakimu
aku sendiri yang mengganggapku gila,
ternyata ada terlalu banyak nilai sekedar dari berusaha
syaraf otakku telah dimonopoli
dan kakiku menghambat kepalaku yang ingin berdiri
apa yang menjadi perjuanganku saat ini?
sedang tak seorangpun sudi memanggilku anak
hanya dianggap budak
orang-orang tua yang tak tau memihak
setidaknya masih ku anggap ini tubuhku
dan sebodoh-bodohnya aku berteriak,
aku hanya mau tau kepada siapa aku harus berdoa
untuk masa depanku
jika tidak untuk masa lalumu

by Hanjaya Boentoro

Peran gadungan

tuangan sebuah air yang jarang dimainkan
badan-badan seanggota menderap tanpa kepala-kepala mereka
alur mengacak latar bergerak,
aku mau menjadi diriku sekarang
dengan mata yang membelalak
mengangkat harga pada permukaan diri
menjadi pemabuk, penipu
aku tak mau perduli saat ini
ternyata kau pun menikmati menjadi dirimu sendiri
layar terbuka
dan aku telanjang
sebelum sempat kostum dikenakan
lampu-lampu pergi mengikuti arahan hati
apakah nasi akan berbicara padaku esok pagi..?
tak seorang pun mengetuk pundakku
namun aku berbelok menengok
anggaplah aku setan atau malaikatmu
seolah detak jantung urusanku berbunyi
tepok-tepok penonton yang semakin tinggi
pada diriku atau peranmu..
sesaat sebelum pertunjukan usai
tirai telah ditutup kembali
lampu dinyalakan
dan penonton telah berbubaran, sepi
musik yang tetap berdenting
aku menari dengan tangis yang sudah kuyu
tak seorang pun berani kali ini
sebelum saatnya sudah kuharapkan kemegahan
kau nikamti malam ini..?
namun kakimu tak pernah kembali

by Hanjaya Boentoro

Mendekam

aku tulis rayuan baru di sekedar babu bisu
untukmu dan mereka
agresi jiwa dan luapan harga,
mereka yang menundukan kepala
yang mencaci penuh suara, dan
aku berkata..
kita disini tidak untuk mati
(sambil mengangkat belati dan menusuk dahi)
aku tahu berbicara dalam hati,
ilusi nyata yang tak mau mati sendiri
dan dari tanah ini memekar logika
sungai darahku, air bagimu suatu nanti
berapa perahu kita ombang-ambing..?
dan yang terbesar pun hanya cukup untuk binatang saja
berapa lagu.. dan ideologi lagi..?
untuk udara-udara hambar
dan penguasa yang mekar lebam.
mari kita buat sendiri..
percakapan-percakapan tanpa manusia
tenang dan kelam yang menerawang
udaranya berwarna dan semua bercahaya

by Hanjaya Boentoro

Kali bata

percakapan tak pernah kuberikan
saat menantimu
peramu bisu
aku terhentak akan bayang-bayang datar
bertengger dibatasan batu
tak pernah tak nyata
hanya mata tak sepatutnya berkata-kata
aku dan kamu yang lelah menjamu.
lekat-lekat topeng
telah bau badanku disebelahmu
dan aku malu
sambil punggungmu mengacuh bermesra
suatu hari kan kukecup bibirmu
sampai kau sadar selain itu palsu

by Hanjaya Boentoro

Dunia mematikan lampu

kembali ke dunia tidurmu nak..
sebentar kugembungkan selimut tidurmu
dan kau menolak tangan ku
sampai nanti kau tak berhenti menangis
sebelum kuberi air susu punting ibumu
sebentar sebentar,
sebentar kucari dimana lupa itu berada
karena dari tangankulah keluar semua bencana
dan pada akhirnya kau pun terpaksa turut didalamnya
nah..
..
kembali ke dunia tidurmu nak..
sebentar ku cium pipimu
dan kau menolak badanku
hanya saat kusapu rambutmu kau menerima..

kembali kedunia tidurmu nak..
sebentar kumatikan lampu
dan aku tak pernah ada

by Hanjaya Boentoro

Cermin

derita biar aku yang bawa
kutukar dengan sebuah nyawa yang tak pernah ada
bau wanginya kala engkau disiksa
hangat gelora kala engkau diperkosa

lembar-lembar cerita berganti halaman berikutnya
dan perlahan kau palingkan muka yang sama
bukan sarapan yang biasa, katamu
dibuang serapah layaknya dongeng-dongeng
yang tak lagi kau percaya
sebesar tirai matamu aku tergoda
namun engkau masih enggan membuka mata
bukan salahku, tak ada bintang di kota baru
dan tak satu pun bintang jatuh malam itu
jangan kali ini kau nilai aku seperti itu
pintaku tanggalkan sepatumu di jalanan berbatu
maka telapak kakimu diantara benalu

padaku sebuah cinta dan padanya sisi-sisi
tak pernah ada
sebuah cermin yang tak mengada-ada
tak bermassa, tak pernah nyata

by Hanjaya Boentoro

hidup yang terlanjur tertawa

mari kuberikan
sebuah permainan..
sudah kutusuk
si pengemis yang jarang..
entah mati..?
tadi kubiarkan pergi..
bersujud-sujud pada kaki yang malang
meminta pulang
berbicara jarang
tak tau malu emak bapakmu..
di sini bersandar sayap-sayap elang
yang kusadari hanya sebuah bayang
tanpa mencuci tangan
kubawa tidur darah yang di sebelah kerongkongan
heeeeeh..
huuuuuh.. sambil berbisik keluar
asap rokok berkebulan..
ku beri tempatnya di bawah pohon yang hidupnya sendiri..
yang tempatnya bukan di bui..
bukan pula di bumi..
manusia banyak berbicara tentang kaca..
yang sudutnya bualan serupa..
haha.. kata katak kepadanya
aku tak butuh ruang
yang memberi hidup
sebuah sirkulasi..
maukah kau bermain denganku..?
pada saatnya nanti
bolehlah kau mengingat tawa,
atau kembali kepadanya..

by Hanjaya Boentoro

Bersilat diri

ada satu yang akhirnya membuat aku lantang berbicara..
dan saat aku tertawa..
ternyata aku sedang menangis juga..
apa yang kau pegang dahulu..
wahai pahalawanku..?
sampai jalanmu di lembah berbatu
dan aku bernafas saja sudah cupu..
saat ini diamku menjadi resah
dalam ruang yang sedang dipecah-belah..
saat ini diriku sedang bertemu
dan tak satu pun bangku untuk menunggu..

by Hanjaya Boentoro

Hanya seekor laba-laba

sudah sampai pesanmu di telinga
dan terlalu besar aku berak dicelana.
tak mau seperti mereka
yang terlalu banyak bicara..
aku pun jadi malu..
mengarak baju sudah tertata
menuai rindu membelalak budaya
terlalu mahal yang ku punya..
untuk jadi seperti mereka
biar saja yang mencipta mata
memberi warna pada kanvasnya
dan biarkan saat ini hanya si singa
yang menjadi penguasa rimba..
aku yang hanya seekor laba-laba
menuntut balik dikehidupan yang selanjutnya.
wahai kau.. yang ragu menjadi manusia
maafkan surya yang berkaca-kaca
saat ini akan kubayar dimuka
segala derita yang dicipta..

by Hanjaya Boentoro

Seekor kucing dan sebuah bola putih

seorang tua pada akhirnya hanya diam saja..
dan sebuah bulat segitiga
hanya perduli pada bapaknya..
aku tau resah hatimu..
mau bersenda gurau lagi
tak mengicau burung yang tadi pagi..
coba lihat aku dan foto kecilku..
aku pun rindu disapu..
tidur menungging dan minta disusu..
tak mau lagi aku melihat neraka
dan tak sudi bagiku membuka pintu surga..
maka mari bermain sekali lagi..
dan sekali lagi, sampai tulang keringmu habis digerogoti..
dan setidaknya kacamatamu sudah pasti kukantongi.
toh abu rokok hanya dibuang sesekali..
hanya selinting ganja yang kau sesali..

by Hanjaya Boentoro

Cheria jelita

siang tadi matahari mati
dan masih kulihat satu pelangi..
padanya merindu sebuah mimpi
angan bunga yang mekar bernyali..
mari tertawa, hai mata yang sayu
mari berdusta..
wahai bibir yang kaku..
tangismu biar jadi basuh mukaku
dan lusuhnya baju
akan selalu enggan berbisu
biarkan ceriamu selalu jelita
dan jelitamu selalu ceria
seperti doa
yang sudah mati pada nadi nenek moyangmu..
mari bernyanyi.. cheria jelitaku
tempatku akan pada sayangmu
menjadi alas, bagi telapak kakimu
sebagaimana ranting telah menyimpan tangisku..
dengarlah angin menepi..
lihatlah sepi mengkaji..
tak ada yang salah di tempatmu berdiri..

by Hanjaya Boentoro

Adanya sebuah ketiadaan

matiku tak mau begitu
pada saatnya..
iblis sendiri berdiri didepanku

sudah tiga kali kita hidup dan mati
untuk mahkota yang dianggap abadi
akulah anak cucuku
jika bukan hari ini.
biar bayang kita yang pegang
sampai terang menderap iba..
dan mendadak gelaplah tuannya
perlahan kita menyala
dan bergegas kita tertawa.
dan sang indra pun tersenyum lepas..

pegang erat tangismu itu
sambil tatapmu padaku..
karena sepasang mata selalu melihat adanya..
mari kita hidup seperti ini

matiku tak mau begitu
pada akhirnya..
aku mati sebagai nafasmu

by Hanjaya Boentoro

Tinggi

cukup sudah dunia dan isinya, jika kamu milikku
mataku berdiri, menatap jemari yang sedang menari
menunggu waktu, melakukan haru yang sudah pernah kita habiskan
sebuah cinta, dan manis cerita..
namun angin berisik, dan menyalalah bintang peradaban
pada masa sebelum tempatnya
dan aku..?
aku menyumpah mati pada kekasihmu..
semalam lusa aku menari, pada sebuah mata yang kunanti
dan sebelum kamu disini
tak rela aku pergi mati
saat ini mabukku sudah pada puncaknya
maka layaklah aku mengartikanmu
tanpamu, hanya ada pasir seribu
mengenang tenang yang berbatas api
tanpa suara tanpa cela,
tanpa bahasa dan nafsu segala
inginku hanya menggenggam
inginku hanya mencumbu
karena bertemu belum cukup untuk seminggu
aku terbang..
kau melayang..
dan dunia menghilang

by Hanjaya Boentoro

Dunia-dunia

wahai bunga..
hiduplah sebagaimana hakekatnya
dan matilah pada semestinya
suatu hari aku pasti datang melamar
melampaui langkah-langkahmu yang unggul didepanku
sampai siang jera berkeringat dan bulanlah takdirnya
jalurku akan selalu hidupmu
menginjak-injak kulit yang sesaat menjadi hak hidupku
sampai matimu ditanganku
dan semerbak bau mayatku..

by Hanjaya Boentoro

Setetes tak pernah habis

lelah walau tak pernah berhenti, masuk menggeliat dalam jiwa sang pujangga
yang pernah mati
menghidupkan lagi dan bertanya lagi
sudah pekat corat-coret tawa hina masyarakat
sudah codet.. mau dibilang apa?
mundur ikut mati, maju tanggalkan harga diri
merembukan kata bla.. bla.. sampai ditelinga kandang babi
mau jadi apa kalau aku berhenti? siapa mau tinggal di sini?
jangan-jangan kamu sudah haus garam manis.. korban bual-bualan setan
aku tak takut tidur disini
memang sudah takdir merintih perih
menyamakan putik dengan putih.. ya tuhan.. apa pula pintamu nanti?
disuruh berdiri, aku berdiri..
disuruh jongkok, aku mau berdiri..!
aku mau berdiri..
tak indah kalimatmu berbincang.. dan untuk sendiri pikiran menepi
aku ini bagian yang paling sepi.. tapi bukan yang di tepi
tugasku mendebur ombak.. menyulut api sang matahari..
mengangkat putar poros bumi.. sampai berhenti kamu menari..
sampai berhenti kamu menari..

by Hanjaya Boentoro

Dua yang mati

hati, mau pergi kemana? jangan lari.. nanti mati
putar lewat sini, sekarang iri nanti memberi.. berbelok kanan, lalu ke kiri..

di belakang hanya ada mimpi
ikut aku sini, biar cepat nanti..

ahh.. hati.. tempatmu bukan disini..
makan tai berak nasi, sstt..
nanti tambah besar kepala mereka

sudah tak sayang lagi dengan ibumu..? atau itu bapakmu..?
bagus!
jangan dengar kata siapa..
hanya ingini berat si penari
memberi api dan pagar duri, dan tak ada yang tak terselami

aku mau ajak kau pergi, hati..
tapi hati-hati sudah dua yang mati dari bumi pertiwi.

by Hanjaya Boentoro on

Pengemis kata-kata

beri aku sesuatu!
karenanya aku bernafas
dan karenanya aku mau bernafas.
suatu ketika datanglah mimpi
dan disitu kulihat aku disuapi
meski tak tau, namun aku kenyang
dan tak mau aku tau..
karena aku takut sebuah ilusi, hanya sebuah ilusi
dan memang aku ini seorang penakut.
beri aku sepatah..
atau sehuruf saja, dan aku akan tertawa
detik ini aku kan berhenti berkata
dan detik ini aku kan terus bicara
aku lapar akan kata..! aku haus akan makna..
wahai manusia
jangan berhenti beri aku derita
lalu dari sini kan ku gambarkan sengsara..
biar mereka saja mencoba, namun aku kan memaksa..
beri aku sebuah kata

by Hanjaya Boentoro

Tolong!

pernah kamu hapus memori dalam jiwamu..?

mungkin sambil menangis, mungkin tertawa jahat, mungkin terpaksa
menjualnya demi hidup, karena memang bagimu hanya hidup itu yang hidup
jiwaku dimakan raga pelan-pelan
dipaksa melihat, terpaksa mendengar, lalu berbicara..
sudah tinggal sedikit, sekarang pun habis dimakan kata
hidup ini hanya pembunuh
dan sisanya masih sadar dalam daging yang busuk
tidak mati..

tolong bunuh aku sekarang!
tak ada nafsuku untuk hidup sekarang..
sebentar lagi orang-orang akan datang bertanggap
dan tak ada lagi aku untuk mendengar..
sudah cukup..
sudah cukup aku liat gang-gang kecil dengan tembok-tembok tinggi lebarnya, sudah cukup!
hanya kata-kata serapah yang tersisa
apa kamu belum cukup mendengar..?
wahai orang-orang yang perduli hidup
tolong..
bunuh aku sekarang.
biar jiwa ini dapat bergabung dengan jiwanya yang lain dalam cinta
biar tubuh ini habis digerogoti nista
ia hanya fana.
wahai orang-orang yang perduli hidup
tolong..
bunuh aku sekarang.

by Hanjaya Boentoro

DOA UNTUK IBU
Puisi Mutia Fitriyani

Aku tak tau apa yang harus kuLakukan tanpa dia
Dia yang seLaLu mengerti aku
Dia yang tak pernah Letih menasehatiku
Dia yang seLaLu menemani

DiaLah Ibu
Orang yang seLaLu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa.nya aku bukanlah apa-apa

Aku hanya seorang manusia Lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih dari ibu
Kekuatan yang Lebih dari apapun

Engkau sangat berharga bagiku
WaLaupun engkau seLaLu memarahiku
Aku tau
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduLi denganku

Ya Allah,,
BerikanLah kesehatan pada ibuku
PanjangkanLah umur.nya
Aku ingin membahagiakan.nya
SebeLum aku atau dia tiada

Terimakasih Ibu
Atas apa yang teLah kau berikan padaku
Aku akan seLaLu menyanyangimu

IBU
Puisi Richard Fernando Putra Bela

Ibu kau mengandung 9 bulan
sampai engkau melahirkanku dengan susah paya
engkau merawatku sampai aku tumbuh besar
engkau juga merawatku tampa pamri
dan engkau juga merawatku dengan penuh kasih sayang

Ibu kau mengajariku berjalan sampai aku bisa berjalan
engkau juga mengajariku berbicara sampai aku bisa
Ibu kau bagaikan malaikatku
dikala aku sedih engkau selalu ada untuk menghiburku

Ibu.. aku juga merasa engkaulah pahlawanku
setiap aku kesusahan engkau selalu ada untuk membantuku
Ibu… bekerja keras
untuk menafkahiku
ibu… terima kasih atas pengorbananmu
yang engkau berikan kepada ku
Ibu…

JASA TAK TERLUPAKAN
Puisi Patma

Ibu…
kau membingbingku selama satu tahun
kau begitu baik padakuwaluapun aku sukamarah-marah

Ibu….
kau begitu ceria dan rajin dari pada guru yang lain
ibu…
kau yang pintar,baik,ramah,cantik,dan sopan

Ibu…
kalau aku membuat salah tolong maafkan aku
karena aku cuma kesal karna aku selalu diejek

Ibu…
kalau aku lagi sedih kau menghibur aku
kalau aku lagi kesal kau menghiburku

Ibu…
terimakasih atas jasa-jasamu jika aku
masih sempat bertemu dengan ibu
aku sangat ingin memeluk ibu

TANGISAN MATA BUNDA
Puisi Monika Sebentina

Dalam Senyum mu kau sembunyikan letih mu
Derita siang dan malam menimpa mu
tak sedetik pun menghentikan langkah mu
Untuk bisa Memberi harapan baru bagi ku

Seonggok Cacian selalu menghampiri mu
secerah hinaan tak perduli bagi mu
selalu kau teruskan langkah untuk masa depan ku
mencari harapan baru lagi bagi anak mu

Bukan setumpuk Emas yg kau harapkan dalam kesuksesan ku
bukan gulungan uang yg kau minta dalam keberhasilan ku
bukan juga sebatang perunggu dalam kemenangan ku
tapi keinginan hati mu membahagiakan aku

Dan yang selalu kau berkata pada ku
Aku menyayangi mu sekarang dan waktu aku tak lagi bersama mu
aku menyayangi mu anak ku dengan ketulusan hati ku

Sahabat Sejati

kian lama hidup yang ku jalani
selalu bersama mu sahabat ku
susah sedih senang yang ku rasakan
bersama mu sahabat ku

sahabat
begitu banyak kenangan yang kita lalui
ke bahagian yang selalu kita rasa bersama
namun musnah dengan sekejap
telah di renggut oleh maut yang tak terduga

sahabat
kini kau telah pergi meninggalkan ku
meninggalkan semua kenangan kita
menyimpulkan sebuah air mata
yang terjatuh di pipi ku

sahabat
meski kini kita tak bersama
meski kita telah berbeda kehidupan
namun kita tetap satu dalam hati dan cinta
karena kau sahabat sejati ku

selamat tinggal sahabat ku
selamat jalan sahabat sejati ku
cinta kasih mu kan selalu satu di hati ku
selamanya ………

karya :zhulva

Bersamamu Aku Tegar
Ku sadar..disini arti ketulusan yang sesungguhnya
Yang tak kudapati…di tempat lain!
Ku mengerti..makna kebersamaan yang sebenarnya
Hanya denganmu..bukan yang lain!

Disini juga, tak pernah ada kebohongan, seperti tempat lain
Semua berjalan jujur, tanpa pura-pura
Ini bukan basa-basi…seperti kata politisi
Sahabatku…..arti kejujuran yang nyata

Tawa dan canda terdengar lepas di semua bahagiaku
Tangis pun mengalir pilu di setiap dukaku
Kurasakan beban itu, bukan apa-apa
Selagi bisa kita berbagi dalam suka dan sedih

Sahabatku, Tuhan telah mengirim malaikat
Yang bersemayam di jiwamu
Kini kutau mengapa? Tuhan memilihmu
Hadir diantara tawa dan tangisku

Engkau adalah pilihan dari kehendak-Nya
Sahabatku, waktu terus berjalan..itu artinya
Harus melangkah terus kedepan
Jalan ini sangat panjang, takkan kuat sendirian

Beratnya hidup, harus diperjuangkan
Sahabatku, bersamamu aku hidup
Bersamamu aku tegar
Tak goyah, meski di hadang badai

Sahabat..! yakinlah
Bersama, kita akan tegak berdiri
Jangan pikul sendiri semua beban
Biarlah segala menjadi milik kita

Tentang Sahabatku
Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan

Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan

Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan
yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan
hingga mampu memberikan keteduhan
dalam kedamaian

Wahai angin pengembara
kabarkanlah kepadaku tentang dirinya

Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci
yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri
dalam kesegaran

Sahabatku adalah derasnya hujan yang turun
yang menyirami setiap jengkal bumi yang berdebu menahun
hingga mampu membersihkan mahkota bunga dan dedaun
dalam kesucian

Sahabatku adalah untaian intan permata
yang berkilau indah sebagai anugerah tiada tara
hingga mampu menebar pesona jiwa
dalam keindahan

Wahai burung duta suara
ceritakanlah kepadaku tentang kehadirannya

SAHABAT ITU…..
Puisi Psycho

Selalu hadir dalam kehidupan kita
Baik itu senang atau susah
Tak perlu berkata ia pasti mendengar
Semua cerita akan tercampur dengan bumbu kisahnya
Menegur kala kita salah mengambil langkah
Menyokong kala kita mengangkat satu keputusan
Bertanggung jawab walau tak ikut menyebabkan
Meniupkan hawa kedamaian kala kita terbalut dalam emosi

Dan…
Selalu seperti itu hingga takdir memisahkan

Pahlawan Pendidikan 
Jika dunia kami yang dulu kosong
tak pernah kau isi
Mungkin hanya ada warna hampa, gelap
tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana
Tapi kini dunia kami penuh warna
Dengan goresan garis-garis, juga kata
Yang dulu hanya jadi mimpi
Kini mulai terlihat bukan lagi mimpi
Itu karena kau yang mengajarkan
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus dilukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Terimakasih guruku dari hatiku
Untuk semua pejuang pendidikan
Dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa
Dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah
Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin
Hanya ucapan terakhir dari mulutku
Di hari pendidikan nasional ini
Gempitakanlah selalu jiwamu
wahai pejuang pendidikan Indonesia
Terimah kasih guru 
Kaulah pembimbingku……
Kaulah pengajarku……
Kaulah pendidikku……
Guru……
Itulah julukanmu……
Yang tak pernah bosan dalam……
Mengajar dan membimbingku
Guru……
Tanpa dirimu aku akan hancur……
Tanpa dirimu aku akan sengsara……
Tanpa dirimu aku akan sesat……
Guru……
Terima kasih……
Atas segala jasa-jasamu……
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa  
Pahlawan tanpa tanda jasa
Ialah Guru
Yang mendidik ku
Yang membekali ku ilmu
Dengan tulus dan sabar
Senyummu memberikan semangat untuk kami
Menyongsong masa depan yang lebih baik
Setitik peluhmu
Menandakan sebuah perjuangan yang sangat besar
Untuk murid-muridnya
Terima kasih Guru
Perjuanganmu sangat berarti bagiku
Tanpamu ku tak akan tahu tentang dunia ini
Akan selalu ku panjatkan doa untukmu
Terimakasih Guruku

Majulah Terus Siswa Indonesia
Dengar, dengar, dengarlah isi tulisan ini
Hanya kepadamu harapan ku sandangkan
Hanya kepadamu cita- cita dipertaruhkan
Tak ada sesuatu yang tak mungkin bagimu
Bangkitlah melawan arus yang terus mendera
Kuasailah dirimu dengan sikap optimis
Paculah laju kudamu sekencang-kencangnya
Lawanlah bebatuan terjal yang mengusik di jalanan
Ingat, Engkau adalah harapan, engkau adalah masa depan
Masa depan ada di tanganmu
Harapan terpendam ada di pundakmu
Nasib bangsa engkau yang menentukan

Di Antara Dua 
Di antara dua, aku harus memilih
Entah satu baik atau buruk
Aku tak bisa berdiri di antara keduanya
Dan aku menentukannya

Di antara dua, aku harus masuk
Entah satu mudah atau sulit
Aku tak bisa bergelut di antara keduanya
Dan aku meratapinya

Di antara dua,aku harus berjuang
Entah satu manis atau pahit
Aku tak berhenti meraih satunya
Dan aku tak ingin kalah
GURU
Oleh Zaneta.N.A.J

Guru…
enkau membimbing ku setiap hari
setiap waktu dan setiap saat
hatimu sunguh mulia
enkau adalah orang tua ku yang ke2 dalam hidup ku

Setiap hari
kau curahkan ilmu
untuk bekalku nanti
enkau adalah patriot pahlawan bangsa

Terima kasih guruku
karna enkau lah aku menjadi pintar
enkau ku sebut
pahlawan tanpa tanda jasa

Untuk Guru Cerme1 dan Cerme2 Kediri
GURUKU PAHLAWANKU
Oleh Upee

Andai kata matahari tiada
Dunia akan beku dan bisu
pelangi tiada akan pernah terpancar
kehidupan tiada akan pernah terlaksana
Disaat titik kegalauan menghampiri
Terlihat setitik cahaya yang kami cari
Yang nampak dari sudut-sudut bibirmu
Dan gerak-gerik tubuhmu
Engkau sinari jalan-jalan kami yang buntu
Yang hampir menjerumuskan masa sepan kami
Engkau terangi kami dengan lentera ilmu mu
Yang tiada akan pernah sirna di terpa angin usia

Guru……..
Engkau pahlawan yang tak pernah mengharapkan balasan
Disaat kami tak mendengarkan mu
Engkau tak pernah mengeluh dan menyerah
Untuk mendidik kami
Darimu kami mengenal banyak hal
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus di lukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Engkau membuat hidup kami berarti

Guru……
Tiada kata yang pantas kami ucapkan
Selain terimakasih atas semua jasa-jasa mu
Maafkan kami bila telah membuatmu kecewa
Jasa-jasa mu akan kami semat abadi sepanjang hidup kami
Terimakasih guruku, engkau pahlawan ku
TERIMAKASIH GURUKU
Oleh Anggita Nurul Taeyeon

Guru… …
Kaulah pembimbingku……
Kaulah pengajarku……
Kaulah pendidikku……

Guru……
Itulah julukanmu……
Yang tak pernah bosan dalam……
Mengajar dan membimbingku……

Guru……
Kau bagaikan cahaya……
Yg menerangi jiwa dari segala gelap dunia……
Kau adalah setetes embun yg mnyejukan hati……

Guru…..
Kau adalah pahlawan yg tidak mengharapkan balasan……
Dari segala yg kau lakukan……
Kau lakukan dengan rasa ikhlas ……

Guru……
Tanpamu aku akan hancur……
Tanpamu aku akan sengsara……
Tanpamu aku akan sesat……

Guru……
Tanpamu aku tidak bisa menulis……
Tampamu aku tidak bisa membaca……
Tampamu aku tidak bisa berhitung……

Guru……
Terima kasih ku ucapkan kepadamu……
Atas segala jasa-jasa yang kau berikan……
Selama aku belajar di sekolah ini……

GETAR MALAM RINDUKU
Oleh Eko Putra Ngudiraharjo

Ingin ku gali gundukan itu
Dan mencabut papan nama setiap dukaku
Biarlah nafasku memeluk tentangmu
Puisi-puisi gelap menimangku

Sajak berairmata merangkulku
Dan merambatkan tiap ratap disekitar gelap
Seolah kau utus jangkrik untuk memejamkan lelahku
Nyanyi cerita tentang dahaga merindu
Seolah kau titipkan restumu
Lewat dingin malam menyuap

Mantra-mantra penghapus basah tatapku
Tiap dendang lantun macapat mengiring sendu
Seperti suara hati yang tersampaikan padaku
Bahkan suara gitar berbeda saat anganku

Menuju kenangmu
Getar yang mencakar, melahirkan syair bak
pujangga berlagu
Ini untukmu, itu buatmu, dan doa sebagai bhaktiku
Miss u bapak ngudi raharjo.

 

AYAH
Oleh Ratih Anjelia Ningrum

Disetiap tetes keringatmu
Di derai lelah nafas mu
Si penuhi kasih sayang yang luar biasa
Demi aku kau rela si sengat matahari
Hujan pun tak dapat membatasi mu
untuk aku anakmu…
Si setiap doamu kau haturkan segenap harapan

Ayah…
kan ku jaga setiap nasehatmu
Di setiapnafas ku
Di relung hati akan ku hangatkan nmamu
Akan ku kobarkan semua impianmu
Hanya untuk menikmati senyumu
Di ufuk senjamu
Ayah

KERINDUAN
Oleh Niki Ayu Anggini

Ayah dimana engkau berada
disini aku merindukanmu
menginginkan untuk berjumpa
merindukan akan belaianmu

Kasih sayangmu selalu ku rindu
engkau selalu hadir dimimpi
mimpi yang begitu nyata bagiku
menginginkan engkau untuk kembali

Aku selalu mengharapkan engkau hadir
menemani aku setiap hari
menemani masa pertumbuhanku ini

Aku tumbuuh menjadi besar
tanpa engkau disisiku
tanpa engkau yang menemani hari-hariku

 

AYAH SEGALANYA UNTUKKU
Oleh Clara

Ayah..
Beribu kata telah kau ucapkan..
Beribu cinta tlah kau berikan ..
Beribu kasih telah kau curahkan..
Hanya untuk anak mu..

Ayah..
Kau ajarkan ku tentang kebaikan..
Kau tunjukan ku tentang arti cinta..
Kau jelaskan ku tentang makna kehidupan..
Dan kau mendidik ku dengan sungguh kasih sayang..

Ayah..
Betapa mulianya hati mu..
Kau korbankan segalanya demi anak mu..
Kau banting tulang hanya untuk anak mu..

Kini ku berjanji untuk semua kerja keras mu..
Ku berjanji untuk semua kasih sayang mu..
Dan ku berjanji untuk ketulusan hati mu..
Bahwa aku akan selalu menjaga mu..
Aku akan selalu menyayangi mu hingga akhir hiup ku..

Terima kasih ayah untuk semua kasih sayang mu..

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943

Karya Chairil Anwar

AKU BERADA KEMBALI
Aku berada kembali. Banyak yang asing:
air mengalir tukar warna,kapal kapal,
elang-elang
serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
juga disinari matari lain.

Hanya
Kelengangan tinggal tetap saja.
Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
lebih lengang pula ketika berada antara
yang mengharap dan yang melepas.

Telinga kiri masih terpaling
ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
seterang
guruh

1949
Karya Chairil Anwar

CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946
Karya Chairil Anwar

DERAI DERAI CEMARA
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949
Karya Chairil Anwar

DENGAN MIRAT
Kamar ini jadi sarang penghabisan
di malam yang hilang batas

Aku dan engkau hanya menjengkau
rakit hitam

‘Kan terdamparkah
atau terserah
pada putaran hitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau
mengikut juga bayangan itu

1946
Karya Chairil Anwar

DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

Karya Chairil Anwar

DOA
kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku
aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

13 November 1943
Karya Chairil Anwar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s