Puisi Pahlawan

pahlawan untuk indonesiaku
oleh: Andi Nur Muhammad Ichsan

demi negeri
kau korbankan waktumu
demi bangsa
rela kau taruhkan nyawamu
maut menghadang didepan
kau bilang itu hiburan

nampak raut wajahmu
tak segelintir rasa takut
semangat membara dijiwamu
taklukkan mereka penghalang negeri

hari-harimu diwarnai
pembunuhan, pembantaian
dihiasi bunga-bunga api
mengalir sungai darah disekitarmu
bahkan tak jarang mata air darah itu
muncul dari tubuhmu
namun tak dapat
runtuhkan tebing semangat juangmu

bambu runcing yang setia menemanimu
kaki telanjang tak beralas
pakain dengan seribu wangi
basah dibadan kering dibadan
kini menghantarkan indonesia
kedalam istana kemerdekaan

PUISI – PUISI PAHLAWAN

Pahlawan satu

Bersemayam di lubuk yang paling dalam,
ada sesuatu yang tak akan pernah padam,
meski terkadang kau pun kurang paham,
namun, kami semua dapat merasakan.

Kau……,kau lah pahlawan kami.
karena mu lah kami berarti.
karena dihatimu selalu menyala api
nan memendar menularkan semangat, singkirkan keraguan hati.

Pahlawan dua

Di diri mu kami kan bercermin,
di senyum mu kami dapatkan angin
di kata mu yang selalu kami dengar
tekad menebar menyebar dan berkobar.

Kau korbankan apa pun buat kami
agar hidup sekali ini bisa lebih punya arti
dan kami semua tahu, kau melakukan itu
bukan cuma buat sebuah pamrih, yang semu.

Pahlawan tiga

Koar-koar yang kau dengung-dengungkan
adalah balut atas semua kepura-puraan
dan……………
kau selimuti kami semua dengan ketidak-tahuan
kau mengira kami dalam kebodohan.

Sekarang….. bukalah matamu, pasang kedua telinga di kiri kanan kepala besarmu
dan… yang terpenting tutuplah mulutmu
tak kan mungkin kami panggil engkau dengan sebutan pahlawan,
dan sadarlah…., sebenarnya engkau sudah kesiangan.
Pahlawan Kemerdekaan ~ Usman Awang
(Kepada Pahlawan Pahang)

PAHLAWAN
jika hilangmu tanpa pusara
jika pusaramu tanpa nama
jika namamu tanpa bunga
penjajah mengatakan engkau derhaka
maka engkaulah pahlawan yang sebenarnya

Gema seabad silam
Inggeris datang meredah Pahang
bersama peluru bersama senapang
membunuh menangkap setiap pejuang

Sungai Semantan berubah merah
bukan sarap hilir ke kuala
bukan rakit mudik ke hulu
arus merahnya menjulang mayat
pahlawan bangsa pahlawan rakyat
tujuh liang dadanya tersayat

Pahlawan!
Untukmu derita untukmu penjara
bukan bintang tersemat di dada
semangatmu api negara berdaulat
namamu terukir di jantung rakyat.

~ Usman Awang
(Dalam Puisi-puisi Pilihan, DBP)

“Puisi” Maaf Sang Koruptor

Nyzriel El Habibi
Negara ini bebas bung.
Demokrasi katamu, itu hanya teori bung
Emang sih dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
namun kami lah rakyat yang kau maksud

kami di pilih karena Bantuan dari kami untuk rakyat
maka ini lah saat nya rakyat membantu kami
Kami perjuangkan aspirasi rakyat, maka salah kah,
kami mengambil upah dari perjuangan itu ?

Duduk manis sambil merokok,
rapat, rapat dan rapat itu lah yang kami lakukan untuk rakyat
maka tiada salah nya kami berlibur sejenak ke luar negeri atau pulau bali

Anda bicara jujur, kami emang jujur
sampai saat ini kami belum terbukti
Walaupun anda tak suka
namun itulah keputusan kami bersama
mau di tolak gak enak rasa
karena sedekah dari yang sedang berkuasa

Korupsi Kolusi Nepotisme yang anda ributkan
ini hanya nama baru yang muncul di akhir zaman
jauh hari telah kami katakan, kami bekerja hanya satu tujuan
hidup mulia atau mati sebagai pemenang terbanyak meninggalkan warisan
warisan untuk keluarga kami, bukan kah mereka juga rakyat?
Trus, di mana salah kami

kenapa anda memandang kami sebelah mata
menjauhi dan mencaci maki
bukan kah itu hal yang tak terpuji
kami di pilih oleh anda
dan akan berkerja mengabdi kepada anda
dengar kan dan salurkan aspirasi anda

kadang hanya salah terima, tolong lah kami di maafkan
karena kami tak tahu apa isinya
hanya sebuah amplop kuning yang tebal kalau di raba
maafkan kami …….
maafkan kami…..
maaf kan kami…..

17 October 2010

*biar rakyat yang menjawab pak.
Ketika pagi menyapa kota H.10 cairo.

Oleh : Radius Teluk Riti

Matamu berbinar-binar
Senyummu tersungging lebar
Jantungmu jadi gemetar
Melihat setumpuk dinar
akal sehat musnah buyar
Tapi … hatimu tak mengerti
Payahnya hidup anak negeri
Membanting tulang setiap hari
Demi mengais sesuap nasi
Bangga ……?
Kau banggakan yang kau dapati
Kau cukup duduk di kursi
Uang rakyat kau poroti
Ingat!
Saat masa punya nyali
Kau dilempar ke terali
Memar lebam kau dipukuli
Tamatlah riwayatmu maling berdasi.
“Pak Presiden” Tolonglah KPK..

Ajinatha

Pak Presiden tolonglah KPK

Aku akan bilang itu bukanlah intervensi

Dan aku sangat yakin rakyat akan ada dibelakangmu

Tidakkah pak presiden tahu

Kalau KPK itu menjadi lemah dan galau

Atau jangan-jangan pak presiden sendiri yang ikut mengacau..

Ayolah pak..tunjukkan kalau

Bapak tidak sedang ikut mengacau..

Untuk apa KPK ada kalau lemah tak berdaya

Dan keberadaan bapak pun tidaklah dianggap apa-apa

Ayolah pak tolong KPK

Bapak itu kepala negara

Punya hak dan kekuasaan untuk berbuat semena-mena

Polisi melemahkan KPK

DPR pun begitu juga..

Apakah bapak sendiri turut serta dengan mereka..

Tentulah tidak, kalau bapak bisa menolong KPK..

ACEH DALAM KENANGAN
Ernita Kahar

Ketika kecipak air krueng daroy*) membuat kau terlena malam ini
Biarlah jiwamu hanyut bersamanya
Lalu impikan putroe phang*) bercengkerama
Berlarian sepanjang gunongan*)

Ketika nyaring suara muezzin*) membangunkan kau esok hari
Pandanglah kepada jantung tanah ini
Di mana awal nadi berdenyut dan dinamika hidup di mulai
Pandanglah kepada Baiturrahman*) yang memberimu damai
di segenap rasa dan indra
Pandanglah kepada rumah yang memberimu ketentraman

Bila rumpun padi engkau saksikan kuning-kemuning
Bayangkanlah semampai dara tanah ini
Meliukkan ranup lampuan*)
Gemulai lenggok serune kale*) sakral
Sampai keperaduan puteri bunsu*)

Bila engkau dengar derap rapa’i*)
Maka saksikanlah gelora seudati*)
Membakar semangat putra-putri tanah ini
Pergiatlah mengabdi
Kepada tanah di mana kita berasal dan telah menjadi besar

Lalu jika engkau lihat pantai-pantai berpasir emas
Bukit-bukit berjajar dan hutan-hutan perawan
Pujilah kebesaran Tuhan
Memberi kekayaan ruah milik putra-putri yang tegar
Dengan otak seruncing mata rencong

Maka dengarlah hikayat yang mereka lantunkan
Saksikan semarak serebak
Dan tawa para bocah yang menyimpan harap

Marilah memandang jauh merambah
Denyut kehidupan di sini
Maka janganlah malu mengakui
Engkau pasti akan merindukannya lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s